Bayu Yudha Prasetya

Beranda » Konspirasi » Mengenang 46 Tahun Supersemar

Mengenang 46 Tahun Supersemar

“Pertandingan Catur ” Bung Karno vs Soeharto

Soekarno dan Soeharto

Penggulingan kekuasaan Soekarno tak terjadi dalam waktu singkat. Tetapi sangat pelan-pelan (memakan waktu dua tahun lebih , antara tahun 1965-1967). Soeharto memetik kemenangan-kemenangan kecil dengan memainkan pion dan perwira sebelum men-skak mat Bung Karno. Bukan Cuma terhadap Bung Karno, strategi skak mat juga diterapkan Soeharto kepada tokoh-tokoh pembangkang (dissindent).  Misalnya mereka menandatangani Petisi 50, yang bukan saja dikebiri hak-hak politiknya, tetapi juga dilarang berbisnis. Bui menjadi jawaban bagi para aktivis anti-pemerintah. Tak terhitung berapa orang aktivis mahasiswa danpers pembela demokrasi  yang harus meringkuk di penjara karena berbeda pendapat dengan pemerintah Orde Baru (baca: Soeharto).

Babak demi babak dalam pertandingan catur Soeharto melawan Bung Karno mungkin lebih jelas disajikan dalam bentuk berikut ini.

1965

  • 1 Oktober (dinihari). Penculikan dan pembunuhan para Jenderal AD
  • 1 Oktober. Setelah tahun Men/Pangad Jenderal A.Yani gugur, Soeharto mengambil alih kepemimpinan AD dengan restu Pangdam Jaya, Umar Wirahadikusumah dan perwira tinggi lain. Sorenya ketika bertemu dengan Jenderal A.H. Nasution, jabatan itu ditawarkan. Tetapi Nasution menolak. Ternyata Bung Karno mengambil alih jabatan itu dan menunjuk Pranoto Rekso Samudro sebagai care taker. Tapi Soeharto tidak mengijinkan Pranoto pergi ketika dipanggil menghadap Presiden.
  • 3 Oktober. Bung Karno mengangkat Soeharto sebagai penanggungjawab pemulihan kamtibmas dan Pranoto sebagai care taker pelaksana harian.
  • 4 Oktober. Bung Karno menunjuk Soeharto menjadi Men/Pangad.
  • 6 Oktober. Presiden Sukarno mengatakan bahwa peristiwa pembunuhan para Jenderal merupakan “gelombang kecil dalam samudra  revolusi”. Pernyataan ini merupakan kemenangan moral bagi AD, karena simpati rakyat yang mulai mengkristal.

1966

  • 21 Februari. Bung Karno mengumumkan kabinet baru. Yang anti PKI digusur, termasuk Menhankam/KSAB Jenderal A.H. Nasution. Jenderal Sarbini jadi Menteri Pertahanan, sedangkan jabatan KSAB dikapuskan.
  • 11 Maret. Sidang kabinet. Suasana tak terkendali Presiden Soekarno menyerahkan sidang kepada Waperdam II Leimena dan terbang ke Istana Bogor. Para Jenderal TNI AD menyusul. Keluarlah Supersemar.
  • 12 Maret. Mandat Supersemar digunakan Soeharto sebagai pijakan untuk membubarkan PKI. Terjadi show of force Angkatan Darat atas kemenangan terhadap PKI.
  • 13/14 Maret. Bung Karno mengirim surat teguran kepada Soeharto yang dianggap melenceng dalam menjalankan Supersemar
  • 16 Maret. Bung Karno kembali menjelaskan soal Supersemar. Ia menegaskan dirinya masih berkuasa penuh sebagai kepala eksekutif pemerintahan dan Mandataris MPRS. Ia juga bilang , hanya dirinya yang berkuasa untuk mengangkat mentero-menteri
  • 18 Maret. Sejumlah 15 orang menteri ditangkap , termasuk Sobandrio, Chaerul Saleh, dan Jusuf Muda Dalam. Manuver Soeharto  ini mengejutkan Bung Karno
  • 27 Maret. Dibentuk kabinet baru. Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Adam Malik termasuk dalam jajaran 6 orang Wakil Perdana Menteri. Soekarno tampak terpukul karena harus berkompromi. Ketika baru membacakan beberapa nama anggota kabinet baru, ia berhenti dan minta Leimena melanjutkan pembacaan tersebut.
  • 20 Juni. MPRS bersidang dan memilih A.H. Nasution sebagai ketua. MPRS kemudian mencabut gelar Presiden Seumur Hidup dari Soekarno. Soekarno menyampaikan pidato Nawaksara .
  • Sepanjang bulan Juli. Soeharto bertindak membentuk kabinet dan membersihkan orang-orang Bung Karno.
  • Oktober. MPRS meminta Bung Karno melengkapi pidato Nawaksara

 

1967

  • 12 Januari. Bung Karno menyampaikan secara tertulis pelengkap Nawaksara. Ia mengatakan peristiwa G30S/PKI disebabkan oleh keblingernya pemimpin PKI, liciknya nekolim, dan kenyataan adanya orang-orang aneh
  • 17 Februari. MPRS menolak pertanggungjawaban Bung Karno.
  • 20 Februari. Soeharto dan para panglima angkatan lainnya mendatangi Bung Karno di Bogor.  Setelah berbicara 3 jam, Bung Karno bersedia menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto
  • 7 Maret. MPRS bersidang dan memutuskan mencabut mandat dari Bung Karno dan mengalihkannya ke Soeharto. Dengan demikian Soeharto menjadi pejabat presiden.

 

1968

  • 27 Maret. SK MPRS mengukuhkan Soeharto sebagai kepala negara
 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: